Rabu, 04 April 2018

i am 23 and Jesus loves me

Hai!!!!! Oke jadi aku baru lihat post terakhirku, ternyata lama juga ya aku engga nulis. Sebenernya pengen nulis dari kemarin-kemarin cuma idenya ganti-ganti terus. Nah karena hari ini spesial, aku harus menelurkan tulisan baru :D


Happy birthday to me and another 7 million people in the world! Kenapa 7 juta? Karena katanya setiap manusia berbagi tanggal ulang tahun yang sama dengan 7 juta orang lainnya sedunia. Melihat dari judul tulisanku hari ini, aku mau sharing tentang hal-hal yang baik yang disadari maupun tidak disadari yang sudah aku alami selama 23 tahun aku ada di dunia. Pastinya semua hal itu engga lepas dari campur tangan Tuhan.

Setelah merenung, melakukan refleksi diri, kilas balik, dan mengingat momen-momen yang pernah terjadi dalam hidupku, bisa dibilang aku orang yang cukup beruntung dalam beberapa hal. Beberapa yang berhasil kuingat:

1. Terhindar dari kejahatan
Tuhan sangat sayang aku, karena sampai saat ini aku tidak pernah mengalami hal aneh yang berbau kejahatan, misalnya dirampok, dihipnotis, ditipu, dll. Ya pernah sih dulu waktu SMP aku dikerjai teman-teman laki-laki di kelas, mereka mencampurkan sambal hijau ke air minumku saat satu kelas sedang pelajaran olahraga. Mereka payah dan aku menganggap itu kenakalan masa kecil jadi tidak masuk hitungan.
Dulu sekali waktu sedang jamannya menipu lewat telepon dengan modus pura-pura memberitakan salah satu anggota keluarga kecelakaan dan butuh uang untuk tindakan operasi, aku pernah dihubungi via telepon rumah oleh bapak-bapak yang bilang kalau papaku kecelakaan. Aku lupa saat itu aku umur berapa, mungkin SD, dan saat itu aku sendirian di rumah. Jadi aku langsung tutup teleponnya dan langsung menghubungi mamaku. Mamaku langsung menghubungi papaku dan papaku akhirnya menghubungi aku dan mengatakan dia baik-baik saja.
Saat aku SMP kelas 2 juga pernah ada kejadian menarik. Dulu aku bimbingan belajar di tempat kursus dekat rumah. Karena jaraknya tidak begitu jauh jadi aku pergi dengan berjalan kaki. Waktu itu juga sedang jaman hipnotis dengan modus menitipkan undangan ke guru atau anggota keluarga.
Waktu itu aku sedang jalan seorang diri lalu ada mbak-mbak di atas motornya yang sedang berhenti di pinggir jalan. Dia memanggil aku, karena aku kira dia mau menanyakan alamat, jadi aku berhenti. Lalu dia mulai bertanya mengenai sekolah, nama wali kelasku, namaku, kelasku, dsb dsb. Aku jawab asal tapi dia selalu mengiyakan jawabanku. Lalu aku berbicara sambil menatap wajahnya yang hanya tampak matanya saja. Dia menggunakan helm dan saputangan untuk menutupi hidung dan mulutnya. Matanya pun berkabut, tidak jernih seperti warna mata orang-orang biasanya. Jadi aku mulai sadar kalau dia tidak beres dan mulai berbicara tanpa memandang wajahnya. Mungkin dia sadar kalau aku tahu dia berniat jahat, jadi dia akhirnya pamit lalu pergi. 'Try me!!!!!!!!' batinku sambil tertawa dalam hati.

2. Tidak pernah menjalin hubungan cinta


Dulu mungkin aku merasa rendah diri menjadi satu-satunya perempuan yang belum pernah pacaran diantara teman-temanku yang sudah. Dan merasa diriku tidak menarik di mata laki-laki. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, mungkin memang seharusnya seperti ini, dan aku senang dengan kenyataan bahwa aku tidak pernah merasakan putus cinta yang tidak perlu. Jika ada orang yang mengatakan bahwa putus cinta mendewasakan, mungkin memang iya, tapi menurutku banyak kejadian lain yang bisa mendewasakan juga selain kandasnya sebuah hubungan percintaan.
Jika ditanya, 'memangnya kamu ga ingin merasakan pacaran?' Aku akan menjawab, 'ya ingin, tapi partnernya belum ada. Ga mungkin aku menerima siapapun yang datang kepadaku.' Bruh, aku tidak se-desperate itu. Dan lagi, menurutku pacaran bukan hanya untuk senang-senang, mengisi waktu luang, memenuhi kekosongan di hati, atau supaya ada yang bisa memberi perhatian setiap saat; yang jika ribut sedikit, dengan mudahnya berpisah. BRUH. Apa kerennya punya mantan yang banyak? Apa kerennya punya kegagalan dalam hubungan yang banyak? Menurutku lebih membanggakan menjaga diri seperti ini, dan sibuk mengasah diri lebih baik lagi, agar suatu saat nanti kita bertemu dengan pasangan kita, kita bisa menjadi sepadan satu sama lain. Bro and sis, hidup ini tidak melulu soal hubungan cinta dengan lawan jenis.

3. Baby-faced


Ini hal yang paling aku banggakan dari diriku. Menurut orang-orang, wajahku terlihat lebih muda dari usiaku. Bahkan dengan adikku yang hanya selang 1.5 tahun, aku sering disangka adik, dan dia kakaknya. Bagiku adalah sebuah keuntungan memiliki wajah seperti anak-anak. Karena aku bisa bebas memakai baju apa saja, bahkan kaos bermotif kartun pun masih pantas aku kenakan karena wajahku mendukung, dan tetap cocok memakai blus yang feminim.
Wajahku ini juga yang membuatku terhindar dari para sales kartu kredit di mall, ya walaupun begitu aku tetap menjadi sasaran empuk penjual buku voucher 100ribuan, peminta sumbangan untuk acara kemanusiaan atau acara kampus, dan sering dicegat sales tempat kursus bahasa inggris, karena wajahku yang mungkin dipikir mereka mudah untuk dikelabui, ditawari, dan tidak bisa menolak. Jika sudah begitu yang bisa kulakukan adalah pura-pura budeg, pura-pura tidak mengerti bahasa indonesia, atau mengambil LANGKAH SERIBUUU. Alias kabur. Terserah mereka mau menawari siapa saja asalkan bukan aku. Pokoknya jangan aku.

Ini 3 hal yang sangat aku rasakan di usiaku yang ke 23 ini. Terimakasih untuk semua ucapan dan doanya, semua kebaikan kalian akan kembali pada kalian semua juga.
Thank you Lord Jesus for taking care of me and loving me and protecting me, everything. I can do nothing without You.

Have a blessed Wednesday, hope you'll find this feed inspiring! :)

Kamis, 14 Desember 2017

alone but not lonely


Haaaaaaalooooooooo lama banget rasanya aku engga nge-post, nyaris 5 bulan aku engga buat tulisan baru. Kadang-kadang muncul ide menulis tapi bingung gimana mengembangkannya, jadi idenya berakhir tidak tertuangkan deh hehehe. Semoga tulisan kali ini bisa membayar 5 bulan yang kosong ya!
Jadi kali ini aku mau curahkan pemikiranku tentang topik yang juga menjadi judul tulisanku. 'Alone but not lonely' yang mau ku tekankan konteksnya disini adalah 'alone' yang maksudnya dalam hal jalan-jalan, atau melakukan sesuatu yang menyenangkan sendiri, misalnya jalan-jalan ke mall, nonton di bioskop, makan di restoran, atau hanya sekedar jalan ke minimarket dekat rumah.
Aku orangnya sangat menikmati waktu sendiri, waktu dimana aku hanya sendiri, bisa memutuskan aku mau berbuat apa, pergi kemana, beli apa, nonton apa, makan apa, dll tanpa harus menunggu orang lain. Mungkin juga karena aku seorang introvert, jadi aku suka me time. Aku suka saat aku nonton film di bioskop sendirian, atau ketika aku makan di restoran dengan kursi untuk 2 orang tapi hanya aku sendiri yang mendudukinya, buatku hal ini engga jadi masalah. Tapi ada orang-orang yang langsung men-judge orang-orang seperti diriku. Biasanya judgement-nya berupa 'kasihan banget sih sendirian, pasti dia engga punya pacar' atau 'kasihan deh dia sendiri, ga ada teman kali ya?'
Aku cuma pengen bilang PLEASE, jangan asal nge-judge karena apa yang kamu lihat belum tentu sama seperti kenyataan. Orang-orang yang pergi sendirian mungkin aja emang ga ada teman atau pacar, tapi bisa juga mereka pergi sendirian karena mereka lebih suka seperti itu, dan bisa aja mereka ternyata uda punya pacar atau punya teman yang banyak, tapi ga bisa ikut pergi. Banyak kemungkinan, dan aku mau tekankan disini kalau ga ada yang salah dengan pergi sendirian, dan juga orang-orang yang suka pergi sendirian bukan berarti hidupnya menyedihkan dan kami juga engga perlu dikasihani :)
Dari sekian banyak keseruan yang bisa kamu dapatkan kalau pergi beramai-ramai bareng temen, pergi sendirian juga ngga kalah seru kok. Aku kuliah di luar kota, jadi saat tiba-tiba ingin pergi belanja kebutuhan sehari-hari, atau ingin makan sesuatu yang spesifik, atau ingin nonton film tertentu di bioskop, seringnya langsung mengeksekusi rencana sendirian, karena lebih bebas juga daripada saat di rumah. Beberapa kali aku mengajak teman untuk ikut, tapi sering juga mereka menolak karena sudah punya rencana lain.


Saat aku nonton bioskop sendirian, aku bisa menonton dengan lebih tenang tanpa harus berdiskusi dengan teman sebelahku, sehingga aku bisa lebih fokus dengan jalan ceritanya. Saat aku makan di restoran sendirian, aku engga perlu sungkan memesan makanan yang aku inginkan, karena tidak perlu musyawarah dulu dengan teman yang kadang memiliki selera makanan yang berbeda, dan bisa langsung pergi setelah selesai makan karena tidak harus menunggu teman yang belum selesai makan. Saat aku jalan-jalan sendirian ke mall, aku bisa memutuskan mau kemana saja tanpa harus meminta persetujuan teman. Intinya aku merasa hidup lebih efisien dan cepat jika dikerjakan sendiri.
Dari semua pendapatku di atas, aku juga masih suka kok pergi, makan, dan nonton bareng teman-teman. Hanya saja di waktu-waktu tertentu aku juga membutuhkan waktu untuk sendirian, tanpa berinteraksi dengan siapapun. Pergi sendirian selalu memberiku hal baru untuk dieksplor, melatih diri sendiri untuk cepat mengambil keputusan, lebih fokus dengan sekitar karena kita tidak perlu terus-terusan mengobrol dengan teman kita, dan melatihku untuk lebih berani karena kita bergantung pada diri sendiri.
Untuk teman-teman yang juga suka pergi sendirian, tidak perlu berpura-pura sibuk dengan gadget kita dengan alasan kita tidak ingin terlihat seperti anak hilang. Kalau aku pergi sendirian, aku lebih suka melihat sekitar dan menyimpan gadgetku di dalam tas, begitupula kalau aku sedang makan di restoran sendirian, aku lebih suka memperhatikan sekelilingku, dan hanya mengeluarkan gadget untuk mengambil gambar atau membalas pesan penting. Tidak perlu terlalu peduli dengan apa yang kira-kira orang pikirkan dan tidak perlu merasa menyedihkan jika sedang di luar sendirian, karena pergi sendirian bukan berarti kita kesepian dan ternyata sendirian asyik juga kok!

Have a nice holiday ahead! Merry Christmas! :)

Selasa, 11 Juli 2017

do not lower yourself, be humble instead

Halo, maaf menghilang selama bulan Juni, karena sedang suasana liburan jadi aku terkena writer's block :)) Pagi ini sambil sarapan sendirian, aku mendapat pencerahan tentang apa yang harus aku tulis (akhirnya). Setelah memikirkan apa saja yang mau kujadikan poin penting, aku langsung menyalakan laptopku, daripada keburu lupa :p

Teman-teman pembaca pasti sudah sangat familiar dengan ajaran tidak boleh sombong, harus rendah hati, dsb. Di sekolah pasti akan selalu diajarkan, baik di pelajaran agama, kewarganegaraan, bahkan di pelajaran bahasa indonesia bagian peribahasa. Tapi apakah kita benar-benar mengetahui diri kita sendiri? Jangan-jangan selama ini apa yang kita pikir adalah tindakan rendah hati, justru menjadi sebuah kesombongan yang tidak kasat mata; rendah diri. Mengapa aku mengatakan bahwa rendah diri adalah bentuk dari kesombongan? Hari ini aku akan berbagi isi pikiranku tentang hal ini.


Tak jarang di dalam pergaulan, kita mendengar teman kita mengucapkan "ah aku mah apa atuh, cuma ...." atau bahkan kita sendiri adalah orang yang suka mengucapkan kalimat ini. Mungkin konteks dan intensinya hanya untuk bercanda, apalagi biasanya setelah kata 'cuma' selalu diikuti oleh kata-kata benda yang lucu. Tapi sadarkah teman-teman, kalau orang yang senang berbicara seperti itu sebenarnya sedang merendahkan dirinya sendiri? Dengan berkata seperti itu, mereka merasa dirinya bukan apa-apa, bukan seseorang yang penting, dan tidak mampu melakukan hal yang hebat. Sama halnya dengan orang yang menurut kita over-rendah-hati, padahal sebenarnya mereka sedang merendahkan dirinya, misalnya "ah rumah besar apanya, ini cuma rumah gubuk kok" padahal rumahnya gedong, atau "ah masa sih aku cantik? kamu lebih lebih cantik" padahal dia memang beneran cantik, atau "sori ya, gue emang begini orangnya dari dulu, suka .... (nyusahin, nyebelin, atau sifat-sifat negatif lainnya, you name it)" yang intinya stating that he can't be changed.

Mengapa rendah diri adalah bentuk dari kesombongan?
Tolong digarisbawahi bahwa rendah diri dan rendah hati adalah dua hal yang berbeda. Rendah hati adalah ketika seseorang mempunyai kelebihan baik dalam hal materi, bakat, atau kemampuan, namun tidak menunjukkannya di hadapan orang lain demi mendapatkan pengakuan dan pujian. Rendah diri adalah ketika seseorang merasa tidak memiliki kelebihan apapun dan menyalahkan dirinya atas hal tersebut, sehingga cenderung menutup diri dari lingkungan sekitar dan lingkaran sosialnya.


Manusia pada dasarnya diberikan talenta oleh Tuhan yang jumlahnya berbeda-beda tergantung kesanggupannya masing-masing. Ada yang punya banyak talenta dan ada yang punya sedikit talenta. Tugas manusia adalah mengembangkan talenta yang diberikan oleh Tuhan sehingga muncul talenta baru. Dengan merasa rendah diri yang artinya tidak memandang dirinya berharga dan mampu, sama saja kita tidak menghargai pemberian Tuhan. Seseorang tidak mungkin tidak memiliki kelebihan atau talenta apapun, ia hanya belum menemukannya.
Orang yang merendahkan dirinya sendiri di hadapan orang lain, cenderung mempunyai keinginan untuk disanggah argumennya oleh orang lain, semata karena ingin dirinya merasa lebih baik.
Orang yang merendahkan dirinya karena merasa sifatnya sudah mendarah daging dan tidak dapat diubah lagi, juga patut dipertanyakan. Secara tidak langsung mereka sudah merasa tinggi hati sehingga merasa tidak perlu mendengar saran orang lain dan tidak ingin berubah.


Semua orang adalah berharga dan memiliki kelebihan masing-masing. Satu orang tidak dapat dibandingkan dengan orang lainnya karena mereka berbeda. Jika ada orang lain yang memujimu, terimalah dan ucapkanlah terimakasih, karena kamu layak menerima pujian. Jangan menyangkal dengan mengatakan kalimat yang justru kebalikan dari pujian tersebut dan malah membuatmu dikasihani orang lain. Jangan lagi mengucapkan kalimat-kalimat yang merendahkan dirimu sendiri, maknailah setiap kata yang keluar dari mulutmu sehingga memberi dampak positif bagi orang lain.

Semua orang akan terus berkembang, bahkan sampai tua sekalipun manusia akan terus belajar mengenal dirinya sendiri. Karakter negatifmu yang sekarang kamu anggap sudah tidak bisa diubah lagi, pasti masih bisa berubah. Jadilah seseorang yang percaya diri dan tetaplah rendah hati.

Ini ada artikel bagus yang bisa dijadikan bahan perenungan, apakah selama ini kita rendah hati atau rendah diri?

Semoga menginspirasi! Have a nice holiday :)

Kamis, 25 Mei 2017

understanding friendship

Hai.. setelah sekian lama absen dari tulis menulis, i finally have something strong enough to make it into a feed.
Hubungan pertemanan itu susah susah gampang, bener ga sih? Biasanya sih orang cenderung akan berteman dengan orang lain yang menurutnya mirip dengan dirinya, atau punya kesukaan yang sama. Tapi yang pasti dari sekian kesamaan itu pasti ada hal-hal yang berbeda, apalagi kalau sudah mengenal teman kita lebih dalam. Semua perbedaan bisa langsung nampak. Khususnya kalau sama-sama perempuan. Biasanya ada seni tersendiri untuk bisa mempertahankan pertemanan.

Mungkin di sosmed banyak feed berupa foto atau status yang menunjukkan betapa akrabnya sepasang atau sekelompok sahabat. Yang suka pergi makan bareng ke restoran cantik yang harga makanannya bikin aku nyipit-nyipit ((karena ga sanggup lihat)), atau yang suka pergi bareng dengan baju-baju yang lagi in, atau sekedar caption ucapan ulang tahun yang penuh dengan emot love, kiss, dan panggilan sayang seperti beb atau honey dan semacamnya. Ga ada yang salah dari ini semua sih, karena setiap orang kan butuh mengekspresikan diri mereka dan butuh hal-hal yang membuat mereka bahagia. Tapi yang aku sayangkan adalah jika pertemanan atau persahabatan sekelompok orang hanya sampai disana. Ibaratnya dari sekian dalam lautan persahabatan dan hal-hal yang sangat banyak dari sahabat kita yang belum kita ketahui, kita hanya berenang di permukaannya. Kita hanya dekat karena kita sama-sama ingin senang-senang, tapi saat salah satu ada masalah, orang yang kita sebut sahabat malah acuh tak acuh terhadap masalah kita. Atau memberi kata-kata yang terkesan formalitas dan basa basi belaka, contohnya 'yang sabar ya..' tanpa memberi saran atau solusi sama sekali.

Aku tipe orang yang menghargai persahabatan. Jika aku sedang dekat dengan temanku, aku suka mengetahui keseharian mereka, aku juga suka jika temanku bercerita padaku, karena aku merasa dipercaya. Aku juga ingin selalu keep in touch dengan mereka. Hal yang cukup mengecewakan adalah saat sahabatku tidak bercerita apa-apa padaku, padahal aku tau ia sedang apa-apa, well.. 
Aku juga orang yang suka memberi saran pada teman-teman dan sahabatku, walau kadang tidak secara gamblang karena aku orang yang 'gak enakan'.

Sesuatu yang menyedihkan adalah apabila seorang sahabat pergi karena menganggap sahabatnya terlalu peduli padanya dan ia merasa risih. I mean, ga semua orang punya kualitas seperti itu dalam hal persahabatan, ga semua orang mau peduli dengan orang lain. Menjalin persahabatan juga termasuk relationship dengan orang lain, dan ini ga luput dari perselisihan. Saat terjadi perselisihan dengan sahabat, banyak orang lebih memilih 'kabur' atau diam-diam melupakan tanpa mengungkitnya lagi, tapi ada juga yang dengan jujur mengatakannya. Aku lebih suka tipe kedua, karena dengan mengatakannya, hubungan persahabatan menjadi lebih baik, kita juga lebih paham dengan cara berpikir sahabat kita, dan yang terpenting kita bisa membangun diri kita sendiri. Mengatakan masalah di antara hubungan persahabatan tidak selalu dengan baik-baik, terkadang ada percik amarah yang muncul karena sudah terlalu lelah. Sebelum marah-marah ada baiknya kita memahami bagaimana karakter sahabat kita, karena bukannya alih-alih berbaikan, malah ribut berkepanjangan.




Menjalin persahabatan tidak hanya senang-senang bersama, tapi juga saling menegur, mengingatkan, dan membangun satu sama lain. Disinilah letak pengertian itu ada. Disaat sahabat kita menasehati kita, kita harus mendengarkan dan mempertimbangkan nasehatnya, tidak perlu melakukan semuanya jika kita menganggap nasehatnya tidak cocok dengan situasi kita, namun dengan nasehatnya, kita bisa melihat dari sudut pandang lain yang bisa mempengaruhi keputusan akhir kita. Semua nasehat yang sahabat kita berikan, harus kita pahami bahwa itu adalah bentuk dari kepedulian mereka terhadap kita, bahwa mereka tidak ingin kita salah langkah.

Jika kita berada di sisi yang memberi nasehat pada sahabat kita, pahamilah bahwa adalah wajar jika tidak semua nasehat kita akan dilakukan olehnya, karena masing-masing orang mempunyai cara mengambil keputusan yang berbeda. Tapi, akan ada saat dimana sahabat kita tidak sedikitpun mendengarkan kita, yang bisa berujung pada hal yang tidak diinginkan. Jika hal ini sudah terjadi, hiburlah mereka, dan jangan kapok untuk terus peduli pada sahabat kita :)

Akhir kata, semua tulisan ini terinspirasi dari pengalaman pribadi, dan selalu menjadi pedang bermata dua untukku. Untuk semua pembaca tulisan ini, aku harap hubungan persahabatan kalian selalu dipenuhi dengan hal-hal bermakna. Persahabatan tidak hanya bicara soal hubungan yang membahagiakan, tapi juga hubungan yang berjarak, bagaimana kita mengakrabkan diri dengan sahabat kita kembali, itulah hal yang paling berharga.

"Friendship is love with understanding."

Always pray for your bestfriends! Cheers :D

Rabu, 12 April 2017

listen more, talk less


Halo! Ini tulisan pertamaku di bulan April. Cukup lama aku kepikiran tentang topik ini. Karena begitu banyak kejadian serupa terjadi di lingkaran pertemananku, akhirnya aku putuskan untuk menuangkannya dalam blog. Kalau ada kesamaan jalan cerita, mohon jangan tersinggung apalagi marah ya, karena maksudku untuk sharing, bukan attacking.

Judul kali ini adalah listen more, talk less. Pasti para pembaca udah familiar sama quote ini ya, artinya banyaklah mendengar, sedikitlah berbicara. Fenomena apa sih yang terjadi di sekitarku sampai aku mengangkat quote ini menjadi judul tulisanku? Yaa, jadi akhir-akhir ini aku ngeh aja kalo banyak orang yang gak mau mendengar tapi banyak ngomong (aku salah satunya lol), mungkin karena merasa pengetahuannya luas, jadi kita ingin membagikannya ke orang lain. Aku ga bilang ini salah sih, tapi saat diberitahu orang lain kita merasa diserang, gak terima, atau gak mau kalah, ini yang jadi salah.


Ada beberapa poin yang aku simpulkan dari topik ini, diantaranya:

1. We listen only to what we want to listen




Maksudnya apa? Jadi ini respons alami setiap orang yang dilakukan tanpa sadar, menyortir apa yang orang lain katakan padanya, dan hanya setuju pada pernyataan yang menurutnya benar saja, atau yang menyenangkan hatinya saja. Ini hal yang baik sebenarnya, karena kita kan tidak perlu mendengarkan hal-hal yang menurut kita tidak berguna, tapi jangan sampai respons ini menjadi berlebihan hingga tertanam menjadi karakter.

Untuk sesuatu yang bersifat kritik atau saran misalnya, jika kita tidak menyukainya, sejujurnya ada yang salah dalam diri kita. Mungkin ini masalah pride dan ego, yang membuat kita tidak bisa menerima kritik. Orang dengan karakter seperti ini jika dikritik biasanya hanya akan diam, pura-pura tidak mendengar, langsung badmood, atau langsung mengklarifikasi. Padahal, jika kita merendahkan hati dan mau mendengar, kritik dan saran dapat sangat membantu dan mengarahkan hidup kita. Jika kita dikritik atau diberi saran, kita bisa menerimanya dan menyaringnya kemudian, tidak serta merta menunjukkan sikap tidak suka dan penolakan. Siapa tahu, kita yang memang keliru tapi tidak menyadarinya, sehingga kita dikritik.

2. Orang-orang mendengar bukan untuk memahami dan mencerna, tapi untuk membalas


Bisa kubilang ini menjadi penyakit menahun banyak orang. Saat sahabat kita bercerita sesuatu yang privat kepada kita, misalnya tentang kisah cintanya, atau masalah keluarganya, kita cenderung mendengarkan sambil menyusun kalimat seperti apa yang harus kita lontarkan untuk merespon kisahnya. Padahal saat kita melakukan ini, mungkin saja kita melewatkan detail kecil dalam cerita sahabat kita, karena terlalu sibuk menyusun respon. Sebenarnya sebagian besar orang yang bercerita hanya butuh didengarkan. Biasanya sih, saran yang kita berikan juga pasti akan dipikirkan lamat-lamat oleh sahabat kita dan berakhir dengan tidak dilakukan, atau malah melakukan sesuatu yang berlawanan dengan yang kita sarankan. Karena pada dasarnya, mereka yang curhat hanya ingin didengar, berbagi beban pada orang lain yang dianggap dekat. Saran yang tidak berkenan biasanya tidak akan digubris, kembali lagi pada poin 1 :D

Kasus ini ga hanya terjadi dalam hal curhat antar sahabat, tapi juga disaat kita dikritik dengan kritikan yang tidak bisa kita terima. Biasanya kita akan langsung sibuk memikirkan fakta apa yang harus kita lontarkan, terkait karakter atau keadaan kita yang tidak memungkinkan untuk diubah lagi. Aku mempunyai teman seperti ini, yang tidak mau diberitahu dan merasa paling benar. Sebenarnya sifat seperti ini melelahkan orang lain, apalagi orang lain yang benar-benar peduli terhadap hidup kita.

3. Listening = Learning 


Dengan lebih banyak mendengar, kita bisa tahu lebih banyak, entah itu wawasan baru, atau kisah hidup orang lain. Maka dari itu, kita memiliki 2 telinga yang selalu terbuka dan 1 mulut yang tertutup.
"Open your mouth only if what you are going to say is more beautiful than silence."
Mudah sebenarnya untuk mendengarkan, asal kita merendahkan hati, gengsi, harga diri, dan ego kita. Karena dari setiap hal yang kita dengar, pasti ada sesuatu yang bisa kita ambil untuk dijadikan pelajaran. 

Bila ada yang ingin menanggapi dan merespons, silahkan tulis di kolom komentar ya! :D
Semoga menginspirasi. Have a nice day :3

Selasa, 28 Maret 2017

filthy language


Halo, gak terasa kita sudah sampai di penghujung bulan ketiga di tahun 2017. Kali ini aku mau membahas tema yang cukup serius tapi sering diabaikan oleh kebanyakan orang, yaitu filthy language. Apa sih arti filthy language? Kalau menurut hasil googling, filthy language itu kata-kata makian. Yang termasuk ke dalam kata-kata makian itu banyak, kata-kata yang bermakna kasar, tidak sopan, sumpahan, makian, kata-kata jorok, kata-kata bermakna vulgar, dan kata-kata yang bermaksud mengutuk (cursing). Gak perlu lah ya aku sebutin disini contoh kata-katanya seperti apa, pembaca pasti langsung terbayang maksudku.


Dalam pergaulan di kalangan remaja dan dewasa muda, pasti pembaca gak asing lagi dengan kata-kata kasar karena sudah sering mendengarnya diucapkan oleh teman-teman, atau bahkan pembaca sendiri sudah sering menggunakan kata-kata sejenis. Mengapa aku katakan ini tema yang cukup serius tapi sering diabaikan? Karena sebagian besar orang berpikir mengucapkan makian adalah hal yang wajar, padahal sebenarnya tidak. Bagi orang-orang yang tidak memakai kata-kata kasar dan makian dalam percakapannya, mendengar kata-kata tersebut dari orang lain benar-benar membuat telinga panas lho.

"Namanya juga anak muda, wajar lah ngomong gitu."
"Biasa aja kali ngomong gitu doang, yang lain juga sering."
"Uda kebiasaan dari dulu."
"Gw ikut-ikutan temen-temen gw aja."
"Makian uda jadi darah daging dan identitas gw."
"Kalo ga ngomong gitu rasanya ada yang kurang."
"Biasalah cowok mah emang suka ngomong kayak gitu."
Kira-kira begitu respon orang-orang kalau ditanya perihal bahasa kasar. Kalau dipikir-pikir, kebanyakan orang mengucapkan kata-kata kasar karena kesal atau kaget. Ada juga yang setiap bicara selalu menambahkan kata-kata seperti itu di awal atau akhir kalimatnya, semacam sudah menjadi kebiasaan.
Sebenarnya apa yang kita ucapkan merupakan cerminan dari isi pikiran kita. Jika yang kita ucapkan adalah kata-kata yang baik, berarti isi pikiran kita baik. Sebaliknya, jika yang kita ucapkan seringnya adalah makian dan kata-kata kasar, it means something is wrong with your mind.
Menggunakan kata-kata tersebut gak berarti apa-apa dan gak akan bikin keren,.Malah memberi kesan kasar dan tidak sopan. Lantas gimana caranya menghentikan kebiasaan berbicara kasar? Satu-satunya cara adalah mempunyai pengendalian diri yang baik. Pengendalian diri yang baik dimulai dengan pengertian yang baik. Dulu saat kelas 6 SD aku termasuk orang yang suka bicara kasar, karena diajari oleh teman sebangku yang bandel. Tapi saat masuk SMP, aku mulai berpikir bahwa bicara kasar hanya akan merusak citra diriku. Masuk perguruan tinggi, aku diajarkan oleh teman-teman komunitas untuk memperkatakan hal-hal yang membangun, karena ucapan tidak hanya cerminan pikiran kita, tapi juga doa. Bagaimana bisa maju jika yang diperkatakan adalah kata-kata tidak berguna? Teknik paling manjur untuk menahan diri agar terhindar dari mengucapkan kata-kata kasar adalah berpikir dahulu sebelum berbicara, atau jaman sekarang chat.
"Choose your words wisely, put your brain in gear, before you put your mouth in action."
Kata-kata makian tidak hanya yang bunyinya kasar lho, tapi juga yang membawa-bawa Tuhan, misalnya goddamnit, atau yalord. Kata 'anjir' juga menurutku adalah kata yang tidak pantas diucapkan. (Aku tidak pernah mengucapkannya lho, serius!) karena menurutku itu plesetan dari kata kasar kebun binatang.


Beberapa orang jatuh ke dalam kebiasaan berkata-kata kasar karena terbawa oleh teman sepermainannya. Menurutku, saat berada dalam kelompok pertemanan, kita tidak harus kok menerima semua yang ditawarkan oleh teman-teman kita, termasuk jika mereka sering berkata kasar. Kita bisa lho tetap menjaga ucapan kita dan justru memberi contoh pada teman-teman kita kalau kita masih bisa terlihat keren dan gaul tanpa harus mengucapkan makian.

Aku harap tulisan ini bisa menjadi bahan perenungan dan pertimbangan untuk teman-teman yang sering mengucapkan makian. Euphemism terkadang menjadi solusi yang ditawarkan untuk orang-orang yang sulit melepaskan kebiasaan memaki. Euphemism adalah mengucapkan kata lain sebagai ganti kata yang dianggap kasar, agar lebih enak didengar. Mungkin bagi sebagian orang ini sudah menjadi solusi final, tapi menurutku euphemism akan sama hasilnya dengan 'anjir', yaitu kita menggantikan kata 'anj***' dengan kata lain yang mirip, yang maksudnya tetap untuk memaki.
Jika kita bisa berhenti memaki, mengapa harus lanjut memaki? Walaupun itu dengan kata-kata yang sudah dibungkus cantik dengan kata plesetan.
Mulai hari ini, mari kita belajar untuk memperkatakan hal-hal yang positif dan bermanfaat. Semoga menginspirasi! Have a nice day :D

Rabu, 15 Maret 2017

respect the inferior


Halo, hari ini aku tergelitik untuk membahas tentang honor dan respect. Apa bedanya? Kalau kita cek di google translate, artinya sama-sama menghormati sih. Tapi aku mau tekankan bahwa menghormati antara to honor dan to respect itu berbeda. To honor itu menghormati karena jabatan, usia, kedudukan, jasa, dan sejenisnya, singkatnya menghormati seseorang atas apa yang menempel padanya, atas apa yang telah ia perbuat, atas prestasinya, atau atas keberhasilannya. Sedangkan to respect itu menghormati terlepas dari segala embel-embel yang aku sebutkan di atas. To respect berarti menghormati seseorang karena dirinya sendiri sebagai seorang individu, tidak peduli orang tersebut kaya atau miskin, pernah berbuat baik padamu atau tidak, memeluk agama yang sama atau tidak, berasal dari ras atau keturunan yang sama atau tidak, pekerjaannya tinggi atau tidak, respect sebaiknya diberikan sama rata pada semua orang. Kali ini aku akan membahas lebih jauh dari segi pekerjaan dan status.

Di dekat tempat kost ku ada sebuah supermarket. Aku lumayan sering berbelanja disana, jadi aku menyadari jika ada perubahan sedikit saja dalam penataan layout toko, mbak-mbak kasir yang sekedar berpindah posisi kasirnya, atau jika ada mbak kasir yang baru mulai bekerja. Awal-awal aku berbelanja disana, aku tidak pernah menatap mata mbak kasir saat ia mengucapkan terimakasih. Lalu aku berpikir, aku saja kalau sedang berbicara dan tidak ada yang perhatikan, rasanya kesal dan sedih. Apalagi mbak kasir? Yang setiap harinya melayani puluhan bahkan ratusan pembeli, mengucapkan terimakasih sambil menatap ke arah pembeli tapi pembeli hanya menatap ke arah bawah tanpa menghiraukan mbak kasir. Lama kelamaan aku sadar ada perubahan pada pelayanan kasirnya, mereka menyilangkan sebelah tangannya di dada sambil mengucapkan terimakasih plus dengan seyuman. Sejak saat itu aku selalu menatap balik mbak kasir lalu mengucapkan terimakasih kembali, aku ingin mbak kasir merasa bahwa masih ada yang menghargai dia yang berprofesi sebagai kasir supermarket.


Dari cerita singkatku di atas, aku ingin kita semua mulai menaruh respek pada orang-orang yang selama ini kita anggap mungkin kelasnya lebih rendah dari kita, yang bekerja sebagai kasir supermarket, tukang ojeg, tukang pecel lele depan rumah, officeboy di mall, pekarya di kampus, sopir, bahkan asisten rumah tangga. Dengan menatap mata mereka saat berbicara, mengucapkan terimakasih jika sudah dibantu, menyemangati pekerjaan mereka, meminta tolong dengan sopan tanpa terkesan bossy, pokoknya menganggap keberadaan mereka dan memosisikan diri dengan kedudukan yang sama. Karena mereka sama saja seperti kita, sama-sama manusia berakal budi dan berperasaan, yang kebetulan nasibnya mungkin tidak seberuntung kita. Mungkin menaruh hormat pada orang yang kaya, yang berjasa, atau yang berkedudukan tinggi rasanya mudah dilakukan dan otomatis tersistem di dalam pikiran kita. Namun, menaruh respek pada orang dengan 'kelas' yang kita anggap berada di bawah kita terkadang membuat kita berpikir dua kali. Butuh pemahaman bahwa terlepas dari pekerjaan mereka dan status pendidikan mereka, mereka adalah sama seperti kita. Jadi, perlakukanlah mereka sama dengan teman-teman kita.

Beberapa kali aku datang ke kampus, dan terpaksa melewati lantai yang sedang dipel oleh petugas kebersihan. Rasanya guilty luar biasa, apalagi jika aku ingat kalau sepatuku sedang kotor-kotornya karena hujan atau habis menginjak kubangan air. Biasanya aku akan bilang 'permisi ya pak' atau 'maaf ya pak jadi ngotorin', intinya menegur petugasnya. Lagi ngepel tapi diinjak-injak oleh sepatu yang kotor pasti sebal rasanya, karena aku sendiri sebal kalau hasil kerjaku diacak-acak orang lain. Pak petugasnya juga pasti akan lebih senang, setidaknya mereka akan membersihkan kembali jejak kotor kita dengan perasaan yang lebih tenang karena ada yang menganggap pekerjaan mereka.

Intinya adalah menghargai keberadaan mereka dan perasaan mereka. Walaupun bagi kita tidak berarti apa-apa dan tidak membawa dampak besar dalam hidup kita, ucapan terimakasih atau sekedar meminta dengan sopan dan dengan senyuman, bisa mengubah mood mereka seharian loh.
They are happy because somebody finally notice and acknowledge them as a person, not because of what they have or what they do.
Dengan memperlakukan mereka dengan hormat, mereka pasti akan lebih menghormati kita. Ada pepatah yang mengatakan bahwa 'untuk mendapatkan penghormatan, kita harus menghormati terlebih dahulu.' 

Semoga menginspirasi! Have a nice day! :)