Rabu, 06 Juni 2018

when everybody is against you

Halo..hari ini aku mau cerita tentang perkembangan dari post-ku sebelumnya yang berjudul 'chasing careers', sambil tetap menyisipkan sudut pandangku. Banyak yang merespon post-ku yang kemarin dengan bilang, "Kamu hebat banget bisa meneguhkan pendirian kayak gitu.." atau "Aku juga lagi mengalami hal itu tapi aku ga seberani kamu.." ya sebenarnya aku pun selama menjalani pilihanku, engga selalu lancar dan bahagia.. karena sejujurnya orang-orang di sekitarku bahkan kedua orangtuaku belum bisa menerima keputusanku. Mereka selalu mengungkit-ungkit hal yang sama setiap ada kesempatan; saat senggang di rumah, saat di meja makan, saat di mobil.. dan mengungkit-ungkitnya jarang berbentuk diskusi. Mereka hanya mengatakan isi pikiran mereka tanpa mau mendengar isi pikiranku, jika berbentuk diskusi pun seringnya berujung dengan pendapatku yang dianggap seperti pendapat orang gila, yang tidak bisa diterima oleh mereka.

Aku mencoba memahami alasan mereka menjadi seperti itu, ada adikku yang juga sudah bekerja dan mendapatkan gaji yang besar untuk ukuran fresh graduate, lalu saudara-saudari sepupu dari pihak mama yang sebagian besar jauh lebih tua dariku, dan sudah terjun ke dunia karir terlebih dahulu, bahkan anak-anak teman orangtuaku yang dinilai mereka 'sukses'. Belum lagi saat ada om atau tante atau tetangga yang bertanya langsung pada orangtuaku, 'Si Christy lagi sibuk apa sekarang? Udah kerja dia?' (nama panggilanku di lingkungan keluarga adalah Christy). Biasanya kalau tante dan om sudah bertanya seperti itu, masalah jadi panjang, karena akan dibahas lagi saat sampai di rumah. Tidak berhenti dibahas karena menurut mereka adalah sebuah dosa besar ketika aku memilih bekerja magang saat aku sudah lulus kuliah, sedangkan orang lain sudah bekerja tetap.

'Ngapain sih dibela-belain, gaji cuma segitu aja.'
'Buru-buru cari tempat lain, ga usah full 4 bulan disana.'
'Dari dulu kan udah papi/mami bilang, kerja disana kamu melarat.'
'Emang habis magang kamu uda pasti diterima jadi pegawai tetap disana?'
'Udah gaji cuma segitu, libur Lebaran pelit banget.'
dan masih banyak lagi.. yang inti permasalahannya adalah gaji, dan cukup membuat sedih kalau diketik semua sih.

Aku sedih dengan pola pikir macam ini, yang money oriented, karena sejujurnya anak muda jaman sekarang, well ya ada beberapa yang engga sih, tapi masih banyak anak muda yang mau kerja demi karirnya tanpa memikirkan berapa yang akan dia dapat nantinya, yang menomorsatukan pengalaman. Bukan karena aku bekerja sebagai intern, dengan uang transport minimalis, lantas aku bekerja seenaknya; datang terlambat, bangun kesiangan, kerja malas-malasan dan tidak pernah selesai, atau memperlihatkan tindakan buruk di kantor. Semuanya perlu dilatih, perilaku professional tidak muncul dalam semalam, dan aku melihat pengalaman bekerja sebagai intern adalah kesempatanku untuk belajar tidak hanya ilmu dalam pekerjaannya, tapi juga belajar melatih diriku untuk menjadi professional dan menyiapkan diri untuk pekerjaan dengan posisi yang lebih tinggi lagi. Memantaskan diri. Karena kesuksesan pasti diraih dengan susah payah kan? Kalau jawabannya tidak, mungkin kalian beruntung dilahirkan di keluarga kaya raya yang hartanya ga habis-habis, yang selalu diberi uang jajan berlebih, yang bisa membeli apa saja yang kalian inginkan, punya gadget terbaru, yang tidak perlu memulai segalanya dari nol.

Mungkin orangtuaku hanya tidak ingin aku jatuh miskin di kemudian hari, tidak ingin aku gagal, salah langkah. Masuk akal, tapi aku hanya ingin bilang, engga ada yang tau nasib seseorang, bahkan 1 detik setelah ini akan ada apa, engga ada yang tau. Bukan berarti jika aku magang 4 bulan lalu aku akan melarat sampai nanti usiaku 50 tahun. Karena sekali lagi, ga ada yang tau nasib seseorang. Jika aku berusaha dan tekun, pasti hasilnya akan baik, karena hasil tidak akan mengkhianati usaha, dan aku yakin Tuhan juga tidak akan membiarkan aku jatuh terpuruk seperti bayangan orangtuaku.

Engga bisakah kita melihat sesuatu dari sudut pandang positif? Sudut pandang yang lebih optimis? Apakah ukuran kesuksesan seseorang dilihat hanya dari hartanya? Dari jumlah angka 0 di buku tabungan seseorang? Dari pendapatannya per bulan? Dari frekuensinya jalan-jalan keluar negeri?
Menurutku, kesuksesan seseorang dinilai dari seberapa besar dampak yang ia beri untuk orang di sekitarnya. Dari berapa banyak karya yang dia hasilkan selama hidupnya, dan bagaimana karya itu bisa menginspirasi orang lain. Karena sejujurnya aku engga mau hanya kerja mencari uang uang uang sampai aku mati, tanpa sempat menikmati hidup dengan pandangan yang benar. Orang yang seumur hidupnya mendedikasikan dirinya hanya untuk uang, ibarat hamster yang berlari di roda hamster, yang di ujungnya tergantung makanan, yang sampai kapanpun ga akan bisa didapatkan, kecuali hamster itu berhenti berlari dan mulai memanjat rodanya, sadar apa yang dia lakukan selama ini sia-sia.

Hari ini aku membaca berita yang cukup menyedihkan, desainer tas Kate Spade meninggal bunuh diri karena depresi. Satu lagi kasus orang terkenal meninggal karena depresi. Beliau tentu saja bisa dibilang sukses, hartanya melimpah-limpah, karyanya dipakai dan disukai banyak orang, tapi tetap saja depresi tidak bisa dihapus dengan uang yang banyak. (Aku tidak berniat menjelek-jelekkan Kate Spade). Mau sampai kapan kita mementingkan harta sampai melupakan kelegaan jiwa kita? Tentu dengan uang yang banyak, kita bisa membeli apa yang kita mau, pergi kemanapun yang kita inginkan, lalu kita akan menjadi bahagia. Tapi kemudian kenyataan kembali menyadarkan kita, 'uangku akan habis jika aku memakainya untuk hal seperti ini, aku harus mencari uang lebih banyak lagi!' lalu lingkaran setan itu terus mengintai hidup kita sampai kita mati.
Karena alasan inilah, aku memantapkan pilihanku pada karir, tidak hanya bekerja segala jenis pekerjaan demi uang. Memang uang dibutuhkan untuk hidup, tapi uang tidak menjamin kebahagiaan untuk waktu yang lama, hanya kebahagiaan sesaat dan semu.

Aku sudah memutuskan pilihanku, bagianku sekarang adalah melakukan yang terbaik di pilihanku, dan aku juga masih membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat. Sekeras-kerasnya dan seteguh-teguhnya pendirianku, aku juga bisa lelah jika orang-orang di sekitarku selalu menjatuhkan. Lelah fisik karena bekerja adalah hal wajar yang bisa dipulihkan dengan beristirahat, tapi lelah batin adalah hal yang membutuhkan pemulihan yang lama, yang tidak bisa sembuh hanya dengan tidur 8 jam sehari.
Jika ada keluargaku yang membaca tulisan ini, aku hanya butuh didukung, bukan disindir, agar aku bisa lebih bersemangat dalam mengerjakan bagianku. Aku akan membuktikan bahwa mengejar karir dan mengerjakan passion bukanlah suatu kesalahan, apalagi sebuah penyebab kemiskinan.

Selasa, 22 Mei 2018

keeping secrets


Hai hai, hari ini tiba-tiba aku tergugah untuk menulis seputar tema 'menjaga rahasia'. Menjaga rahasia ini ada macam-macam ya konteksnya, yang mau aku bahas disini adalah konteks menjaga rahasia jika kita dicurhatin teman, atau dikasitau sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan teman kita.

Teman-teman pembaca pasti pernah curhat atau dicurhatin teman, macam-macam topiknya, bisa tentang orang yang disuka, pacar, masalah keluarga, masalah antar teman, atau sekedar kejadian buruk yang terjadi di hari itu. Sadar ga sih, kita dicurhatin (bukan ngeluh ya, beda) karena mereka percaya sama kita? Percaya apa? Percaya kalau kita mampu menjadi pendengar yang baik dan memahami cerita mereka. Lebih bagus lagi kalau kita bisa jadi penasehat yang meringankan beban mereka. Biasanya ga semua orang bisa gampang percaya sama orang lain ya, jadi kalau isi ceritanya adalah sesuatu yang bersifat privat, misalnya masalah keluarga, atau pacar, mereka ga akan cerita ke orang yang dianggap belum terlalu dekat dengan mereka dan hanya akan bercerita ke orang-orang tertentu yang dianggap sangat dekat. Ini hal yang sering kita lupakan, para pendengar.
Anggaplah teman kita yang curhat itu A, dan teman kita yang lainnya adalah B. Teman kita A bercerita pada kita tentang masalah pribadinya, misalnya dia berantem dengan pacarnya, lalu kita menganggap ceritanya adalah hal yang tidak cukup privat dan akhirnya menjadikan cerita A sebagai bahan obrolan dengan teman kita yang lainnya, si B. Padahal B ga kenal dengan A, atau sebatas tau saja. Ini pasti sering kejadian ya, karena aku pernah berada di posisi A dan B.

Bagian terburuk dari ilustrasi di atas adalah saat B akhirnya dipertemukan dengan A. Bisa bayangkan apa yang ada di benak B saat bertemu A? 'Oh dia kan yang ada masalah sama pacarnya itu..' 'Oh dia kan yang sampe nekad mau bunuh diri gara-gara putus itu kan..' Yaampun, baru aja kenal, image A udah jelek duluan di mata B. Padahal masalah A udah terselesaikan.
Bagian terburuk lainnya adalah saat A heran kenapa jadi banyak orang yang tau masalah pribadinya, padahal ia hanya bercerita padamu. Ingat, sekali cerita itu disebarkan, kemungkinan besar akan lanjut diceritakan ke subjek lainnya, karena mereka menganggap itu bukanlah suatu masalah yang privat (kamu aja cerita ke dia, masa dia gak boleh), dan berakhir menjadi gosip.
Ada jenis orang yang sangat menghargai privasi (seperti aku) dan bisa sangat tersinggung saat ceritanya disebar ke banyak orang yang dianggapnya tidak perlu untuk tau. Akibatnya, ia tidak akan bercerita lagi pada si penyebar berita, dan mencoretnya dari 'daftar orang yang dapat dipercaya' miliknya. Hubungan pertemanan pun merenggang.. :(


Teman-teman, mungkin susah untuk menahan diri jika sudah bertemu dengan sahabat kita, bawaannya ingin cerita apa saja. Saking inginnya mengobrol, semua hal diobrolkan, dari tukang ketoprak yang lewat depan rumah, tren fashion terbaru, sampai cerita-cerita tentang kehidupan dan tujuan hidup pun ikut dibahas. Menurutku, kita boleh saja bercerita macam-macam pada teman kita, tapi jangan sampai kita melewati batas dan mulai membicarakan masalah orang lain, sebuntu apapun obrolan kita. Cerita orang lain yang diceritakan pada kita, biarlah itu kita simpan untuk diri kita sendiri, kita tidak berhak memberitahukannya lagi ke orang lain. Kalaupun ia ingin orang lain tahu, biarlah ia sendiri yang menyampaikan. Sungguh, kita tidak punya hak untuk membeberkan masalah orang lain.

Tentu ada beberapa pengecualian ya, misalnya teman kita bercerita kalau ia sudah kehilangan harapan hidup dan ingin bunuh diri. Nah kita sebagai teman yang sudah dipercaya olehnya, harus mampu menawarkan bantuan, sekecil apapun itu. Bisa dengan menghubungi pihak yang lebih berpengalaman dalam menangani masalah keputusasaan, sehingga teman kita dapat ditolong.

Di luar masalah yang ekstrim seperti di atas, masalah lain yang masih dapat diselesaikan baik-baik sebaiknya jangan diceritakan lagi ke orang lain. Selain merusak image dari teman kita yang bermasalah, tanpa sadar kita juga merusak image diri sendiri, dengan menunjukkan bahwa kita tidak dapat dipercaya dan ember. Maaf aku ga terpikir kata-kata lain yang lebih pas untuk menggambarkan orang yang suka membeberkan rahasia orang lain.
Jadilah orang yang bijaksana dalam bertindak dan berbicara, sehingga kamu menjadi orang yang dapat dipercaya oleh orang lain. Karena sesungguhnya orang yang curhat bukan hanya butuh didengar dan dinasehati, tapi juga butuh dijaga rahasianya. Kita tidak berhak memberi nilai pada cerita yang kita dengar; di luar pengecualian di atas, semua masalah yang kita dengar adalah hal yang penting dan bersifat rahasia, walaupun di mata kita bukanlah sesuatu yang pantas dirahasiakan.

Jadilah orang yang mampu menjaga rahasia, apalagi rahasia sahabatmu, karena itu mencerminkan kualitasmu sebagai sahabat yang loyal. Semoga terinspirasi!

Jika ada komentar atau pendapat lain yang berhubungan dengan topik ini, silahkan tulis di kolom komentar ya! Aku terbuka dengan feedback :D

Sabtu, 12 Mei 2018

chasing careers

Halo teman-teman, kali ini aku tergerak untuk membagikan isi pikiranku tentang "mengejar karir", mumpung waktunya cocok denganku yang baru lulus kuliah dan sedang berada di masa galau dalam pencarian pekerjaan yang sesuai. Sebelum masuk ke dalam pembahasan yang lebih dalam, kita harus mengerti dulu nih perbedaan antara karir dan pekerjaan, karena sebagian besar orang masih berpikir bahwa kedua hal tersebut adalah sama. Singkatnya, karir itu cita-cita kita, atau tujuan hidup kita dalam jangka panjang, misalnya kita bercita-cita jadi pengusaha hotel atau jadi pemilik restoran. Kalau pekerjaan itu hal yang kita lakukan untuk pihak lain, lalu sebagai gantinya kita akan dibayar. Mengejar karir itu bisa melalui berbagai jalan ya, salah satunya dengan bekerja pada pihak lain terlebih dahulu. Jadi, karir itu sudah pasti melakukan pekerjaan, tapi melakukan pekerjaan belum tentu proses mengejar karir.

Aku baru lulus kuliah Januari 2018 kemarin, lalu seperti kebanyakan fresh-graduate lainnya, aku mulai mencari pekerjaan. Dari awal aku sudah memutuskan untuk mengerucutkan hal yang menjadi kesukaanku dan membulatkan tekad ingin bekerja sesuai dengan kesukaanku itu; yaitu menulis. Latar belakangku adalah pendidikan arsitektur, yang sebagian besar lulusannya pasti bekerja di biro konsultan arsitektur. Sayangnya, minatku untuk bekerja di konsultan arsitektur tidak sebesar minatku dalam bidang tulis menulis. Dari sana, aku mulai melamar di perusahaan media cetak atau media online, sebagai editor atau content writer, namun tidak membuahkan hasil. Selama 3 bulan lebih aku menganggur, dan hal ini cukup menggangguku. Tekanan sosial dari teman-teman yang sudah mendapatkan pekerjaan, saudara-saudara yang tiap ketemu selalu bertanya 'Sekarang kerja dimana?', bahkan tetangga yang papasan di jalan juga ikut-ikut bertanya hal serupa. Sejujurnya ini masa terberat bagiku, apalagi jika aku bercerita pada orangtua tentang keinginanku untuk bekerja di bidang tulis menulis, responsnya kurang lebih selalu sama, 'Untuk apa susah-susah kuliah arsitektur kalau kerjanya ga nyambung?' atau 'Memangnya jadi penulis itu bisa mendatangkan uang yang banyak?' ya semacam itu lah, yang intinya meragukan keputusanku.


Di saat harapan mulai menipis, aku hampir menyerah sehingga mulai mengirimkan email pada perusahaan mana saja, termasuk konsultan arsitektur. Pikirku saat itu, lebih baik bekerja dan mendapat penghasilan, sambil menunggu waktu yang tepat untuk memulai karir sebagai penulis, daripada hanya menganggur di rumah. Pada pertengahan April, lamaranku mulai membuahkan hasil. Beberapa perusahaan memanggilku untuk interview, email lamaran kerjaku direspons, salah satunya adalah lamaranku di perusahaan konsultan. Di saat yang bersamaan, email lamaran pekerjaanku sebagai penulis arsitektur pun direspons. Sebut saja perusahaan konsultan ini adalah kantor A, dan kantor penulis arsitektur adalah kantor B. Kantor A menawariku gaji yang cukup untuk seorang fresh-graduate, dengan segala fasilitas dan dana tunjangan, serta kontrak awal yaitu 1 tahun. Kantor B menerimaku sebagai pekerja magang dengan periode belajar 4 bulan, dengan tunjangan transportasi yang bisa dibilang sangat minim.. Disini aku mengalami kegalauan luar biasa, karena merasa nasibku bergantung pada keputusanku. Di satu sisi aku butuh uang karena aku sudah menganggur cukup lama, namun di sisi lain aku juga ingin memperjuangkan karirku sebagai penulis. Teman-teman pembaca pasti dengan cepat akan menyuruhku untuk mengambil tawaran di kantor A, dengan segala kepastiannya, hidupku terjamin selama sekurang-kurangnya 1 tahun ke depan. Orangtuaku pun gigih membujukku untuk memilih kantor A saja, istilah yang digunakan mereka adalah 'karena kantor A lebih jelas juntrungannya'

Teman-teman pembaca yang budiman, kalian pasti sudah dapat menebak pilihan mana yang aku ambil. Ya, pada akhirnya aku melepas tawaran dari kantor A dan memilih kantor B. Mungkin kalian berpikir aku bodoh, atau menyia-nyiakan kesempatan, atau settle for less. Tapi aku punya beberapa alasan mengapa aku akhirnya memilih kantor B. Pertama, aku ingin mengejar karir, karena selama ini aku hidup tanpa punya cita-cita yang pasti dan berada dalam lingkaran kebingungan tentang apa yang sebenarnya jadi keahlianku. Saat aku sudah menemukan apa yang benar-benar aku suka dan benar-benar berniat untuk mengembangkannya, aku tidak rela jika harus mengorbankannya. Kedua, tindakanku memilih kantor B bukanlah menyia-nyiakan kesempatan. Justru disaat aku memilih kantor A lah, aku telah menyia-nyiakan kesempatan. Bayangkan, jika aku bekerja di kantor A selama minimal setahun, lalu saat akan berhenti dengan alasan ingin mengejar karir, muncul suara-suara dari sekitarku seperti, 'Sayang banget berhenti dari sana, kan kerjaan udah enak' atau 'Ngapain berhenti, belum tentu nanti ketemu kantor yang kayak gitu lagi.' yang pada akhirnya akan membuatku tidak jadi berhenti, dan hilanglah kesempatanku untuk memulai langkah awal menjadi penulis. Hal yang sering kita lupakan adalah, 'Kalau bukan sekarang, kapan lagi?' sekaranglah waktu untuk mengejar karir, karena 'nanti' akan berubah menjadi 'tidak akan pernah'. Ketiga, aku ingin bekerja dengan hati dan mencurahkan apa yang benar-benar aku bisa. Aku ingin melakukan apa yang aku suka dan mendapat uang dari sana. Karena fokus utamaku adalah meniti karir, bukan fokus kepada berapa yang aku dapat, lewat pekerjaan apapun. Keempat, karena aku tidak ingin kehilangan diriku sendiri dengan rela dibentuk oleh orang lain. Kelima, aku ingin bekerja dengan bahagia tanpa tertekan karena mengerjakan apa yang aku tidak suka.


Tentu jika ada di antara teman-teman pembaca yang saat ini belum berniat fokus pada cita-citanya dan sedang bekerja dengan fokus mencari pendapatan, aku tidak bilang itu hal yang salah, karena hidup juga butuh uang. Tetapi ingatlah untuk mengutamakan kesukaan kita, karena jika kita tekun mengembangkan hal yang kita suka, kita bisa mendatangkan uang dari sana juga lho.

Pada akhirnya, kita tidak perlu terlalu mendengarkan orang lain jika pendapat mereka tidak memberikan damai sejahtera untuk kita. Karena pilihan kita akan dijalani oleh kita sendiri. Orang lain hanya pemeran tambahan dalam hidup kita dan mereka tidak bisa berjalan dalam sepatu kita. Mungkin kita akan berjuang lebih berat karena pilihan yang kita buat, tapi semuanya akan berharga pada akhirnya. Pengalaman yang kita dapat selama meniti langkah karir adalah hal yang sangat berharga yang tidak dapat digantikan oleh uang. Setidaknya dalam menggapai cita-cita, kita sudah melakukan langkah pertama yang membuat kita lebih dekat dengan cita-cita itu.

Aku harap teman-teman yang sedang galau dalam memilih pekerjaan dapat lebih tercerahkan setelah membaca tulisan ini.
Jangan menyerah dan kejarlah mimpimu! Have a blessed day! :D

Rabu, 04 April 2018

i am 23 and Jesus loves me

Hai!!!!! Oke jadi aku baru lihat post terakhirku, ternyata lama juga ya aku engga nulis. Sebenernya pengen nulis dari kemarin-kemarin cuma idenya ganti-ganti terus. Nah karena hari ini spesial, aku harus menelurkan tulisan baru :D


Happy birthday to me and another 7 million people in the world! Kenapa 7 juta? Karena katanya setiap manusia berbagi tanggal ulang tahun yang sama dengan 7 juta orang lainnya sedunia. Melihat dari judul tulisanku hari ini, aku mau sharing tentang hal-hal yang baik yang disadari maupun tidak disadari yang sudah aku alami selama 23 tahun aku ada di dunia. Pastinya semua hal itu engga lepas dari campur tangan Tuhan.

Setelah merenung, melakukan refleksi diri, kilas balik, dan mengingat momen-momen yang pernah terjadi dalam hidupku, bisa dibilang aku orang yang cukup beruntung dalam beberapa hal. Beberapa yang berhasil kuingat:

1. Terhindar dari kejahatan
Tuhan sangat sayang aku, karena sampai saat ini aku tidak pernah mengalami hal aneh yang berbau kejahatan, misalnya dirampok, dihipnotis, ditipu, dll. Ya pernah sih dulu waktu SMP aku dikerjai teman-teman laki-laki di kelas, mereka mencampurkan sambal hijau ke air minumku saat satu kelas sedang pelajaran olahraga. Mereka payah dan aku menganggap itu kenakalan masa kecil jadi tidak masuk hitungan.
Dulu sekali waktu sedang jamannya menipu lewat telepon dengan modus pura-pura memberitakan salah satu anggota keluarga kecelakaan dan butuh uang untuk tindakan operasi, aku pernah dihubungi via telepon rumah oleh bapak-bapak yang bilang kalau papaku kecelakaan. Aku lupa saat itu aku umur berapa, mungkin SD, dan saat itu aku sendirian di rumah. Jadi aku langsung tutup teleponnya dan langsung menghubungi mamaku. Mamaku langsung menghubungi papaku dan papaku akhirnya menghubungi aku dan mengatakan dia baik-baik saja.
Saat aku SMP kelas 2 juga pernah ada kejadian menarik. Dulu aku bimbingan belajar di tempat kursus dekat rumah. Karena jaraknya tidak begitu jauh jadi aku pergi dengan berjalan kaki. Waktu itu juga sedang jaman hipnotis dengan modus menitipkan undangan ke guru atau anggota keluarga.
Waktu itu aku sedang jalan seorang diri lalu ada mbak-mbak di atas motornya yang sedang berhenti di pinggir jalan. Dia memanggil aku, karena aku kira dia mau menanyakan alamat, jadi aku berhenti. Lalu dia mulai bertanya mengenai sekolah, nama wali kelasku, namaku, kelasku, dsb dsb. Aku jawab asal tapi dia selalu mengiyakan jawabanku. Lalu aku berbicara sambil menatap wajahnya yang hanya tampak matanya saja. Dia menggunakan helm dan saputangan untuk menutupi hidung dan mulutnya. Matanya pun berkabut, tidak jernih seperti warna mata orang-orang biasanya. Jadi aku mulai sadar kalau dia tidak beres dan mulai berbicara tanpa memandang wajahnya. Mungkin dia sadar kalau aku tahu dia berniat jahat, jadi dia akhirnya pamit lalu pergi. 'Try me!!!!!!!!' batinku sambil tertawa dalam hati.

2. Tidak pernah menjalin hubungan cinta


Dulu mungkin aku merasa rendah diri menjadi satu-satunya perempuan yang belum pernah pacaran diantara teman-temanku yang sudah. Dan merasa diriku tidak menarik di mata laki-laki. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, mungkin memang seharusnya seperti ini, dan aku senang dengan kenyataan bahwa aku tidak pernah merasakan putus cinta yang tidak perlu. Jika ada orang yang mengatakan bahwa putus cinta mendewasakan, mungkin memang iya, tapi menurutku banyak kejadian lain yang bisa mendewasakan juga selain kandasnya sebuah hubungan percintaan.
Jika ditanya, 'memangnya kamu ga ingin merasakan pacaran?' Aku akan menjawab, 'ya ingin, tapi partnernya belum ada. Ga mungkin aku menerima siapapun yang datang kepadaku.' Bruh, aku tidak se-desperate itu. Dan lagi, menurutku pacaran bukan hanya untuk senang-senang, mengisi waktu luang, memenuhi kekosongan di hati, atau supaya ada yang bisa memberi perhatian setiap saat; yang jika ribut sedikit, dengan mudahnya berpisah. BRUH. Apa kerennya punya mantan yang banyak? Apa kerennya punya kegagalan dalam hubungan yang banyak? Menurutku lebih membanggakan menjaga diri seperti ini, dan sibuk mengasah diri lebih baik lagi, agar suatu saat nanti kita bertemu dengan pasangan kita, kita bisa menjadi sepadan satu sama lain. Bro and sis, hidup ini tidak melulu soal hubungan cinta dengan lawan jenis.

3. Baby-faced


Ini hal yang paling aku banggakan dari diriku. Menurut orang-orang, wajahku terlihat lebih muda dari usiaku. Bahkan dengan adikku yang hanya selang 1.5 tahun, aku sering disangka adik, dan dia kakaknya. Bagiku adalah sebuah keuntungan memiliki wajah seperti anak-anak. Karena aku bisa bebas memakai baju apa saja, bahkan kaos bermotif kartun pun masih pantas aku kenakan karena wajahku mendukung, dan tetap cocok memakai blus yang feminim.
Wajahku ini juga yang membuatku terhindar dari para sales kartu kredit di mall, ya walaupun begitu aku tetap menjadi sasaran empuk penjual buku voucher 100ribuan, peminta sumbangan untuk acara kemanusiaan atau acara kampus, dan sering dicegat sales tempat kursus bahasa inggris, karena wajahku yang mungkin dipikir mereka mudah untuk dikelabui, ditawari, dan tidak bisa menolak. Jika sudah begitu yang bisa kulakukan adalah pura-pura budeg, pura-pura tidak mengerti bahasa indonesia, atau mengambil LANGKAH SERIBUUU. Alias kabur. Terserah mereka mau menawari siapa saja asalkan bukan aku. Pokoknya jangan aku.

Ini 3 hal yang sangat aku rasakan di usiaku yang ke 23 ini. Terimakasih untuk semua ucapan dan doanya, semua kebaikan kalian akan kembali pada kalian semua juga.
Thank you Lord Jesus for taking care of me and loving me and protecting me, everything. I can do nothing without You.

Have a blessed Wednesday, hope you'll find this feed inspiring! :)

Kamis, 14 Desember 2017

alone but not lonely


Haaaaaaalooooooooo lama banget rasanya aku engga nge-post, nyaris 5 bulan aku engga buat tulisan baru. Kadang-kadang muncul ide menulis tapi bingung gimana mengembangkannya, jadi idenya berakhir tidak tertuangkan deh hehehe. Semoga tulisan kali ini bisa membayar 5 bulan yang kosong ya!
Jadi kali ini aku mau curahkan pemikiranku tentang topik yang juga menjadi judul tulisanku. 'Alone but not lonely' yang mau ku tekankan konteksnya disini adalah 'alone' yang maksudnya dalam hal jalan-jalan, atau melakukan sesuatu yang menyenangkan sendiri, misalnya jalan-jalan ke mall, nonton di bioskop, makan di restoran, atau hanya sekedar jalan ke minimarket dekat rumah.
Aku orangnya sangat menikmati waktu sendiri, waktu dimana aku hanya sendiri, bisa memutuskan aku mau berbuat apa, pergi kemana, beli apa, nonton apa, makan apa, dll tanpa harus menunggu orang lain. Mungkin juga karena aku seorang introvert, jadi aku suka me time. Aku suka saat aku nonton film di bioskop sendirian, atau ketika aku makan di restoran dengan kursi untuk 2 orang tapi hanya aku sendiri yang mendudukinya, buatku hal ini engga jadi masalah. Tapi ada orang-orang yang langsung men-judge orang-orang seperti diriku. Biasanya judgement-nya berupa 'kasihan banget sih sendirian, pasti dia engga punya pacar' atau 'kasihan deh dia sendiri, ga ada teman kali ya?'
Aku cuma pengen bilang PLEASE, jangan asal nge-judge karena apa yang kamu lihat belum tentu sama seperti kenyataan. Orang-orang yang pergi sendirian mungkin aja emang ga ada teman atau pacar, tapi bisa juga mereka pergi sendirian karena mereka lebih suka seperti itu, dan bisa aja mereka ternyata uda punya pacar atau punya teman yang banyak, tapi ga bisa ikut pergi. Banyak kemungkinan, dan aku mau tekankan disini kalau ga ada yang salah dengan pergi sendirian, dan juga orang-orang yang suka pergi sendirian bukan berarti hidupnya menyedihkan dan kami juga engga perlu dikasihani :)
Dari sekian banyak keseruan yang bisa kamu dapatkan kalau pergi beramai-ramai bareng temen, pergi sendirian juga ngga kalah seru kok. Aku kuliah di luar kota, jadi saat tiba-tiba ingin pergi belanja kebutuhan sehari-hari, atau ingin makan sesuatu yang spesifik, atau ingin nonton film tertentu di bioskop, seringnya langsung mengeksekusi rencana sendirian, karena lebih bebas juga daripada saat di rumah. Beberapa kali aku mengajak teman untuk ikut, tapi sering juga mereka menolak karena sudah punya rencana lain.


Saat aku nonton bioskop sendirian, aku bisa menonton dengan lebih tenang tanpa harus berdiskusi dengan teman sebelahku, sehingga aku bisa lebih fokus dengan jalan ceritanya. Saat aku makan di restoran sendirian, aku engga perlu sungkan memesan makanan yang aku inginkan, karena tidak perlu musyawarah dulu dengan teman yang kadang memiliki selera makanan yang berbeda, dan bisa langsung pergi setelah selesai makan karena tidak harus menunggu teman yang belum selesai makan. Saat aku jalan-jalan sendirian ke mall, aku bisa memutuskan mau kemana saja tanpa harus meminta persetujuan teman. Intinya aku merasa hidup lebih efisien dan cepat jika dikerjakan sendiri.
Dari semua pendapatku di atas, aku juga masih suka kok pergi, makan, dan nonton bareng teman-teman. Hanya saja di waktu-waktu tertentu aku juga membutuhkan waktu untuk sendirian, tanpa berinteraksi dengan siapapun. Pergi sendirian selalu memberiku hal baru untuk dieksplor, melatih diri sendiri untuk cepat mengambil keputusan, lebih fokus dengan sekitar karena kita tidak perlu terus-terusan mengobrol dengan teman kita, dan melatihku untuk lebih berani karena kita bergantung pada diri sendiri.
Untuk teman-teman yang juga suka pergi sendirian, tidak perlu berpura-pura sibuk dengan gadget kita dengan alasan kita tidak ingin terlihat seperti anak hilang. Kalau aku pergi sendirian, aku lebih suka melihat sekitar dan menyimpan gadgetku di dalam tas, begitupula kalau aku sedang makan di restoran sendirian, aku lebih suka memperhatikan sekelilingku, dan hanya mengeluarkan gadget untuk mengambil gambar atau membalas pesan penting. Tidak perlu terlalu peduli dengan apa yang kira-kira orang pikirkan dan tidak perlu merasa menyedihkan jika sedang di luar sendirian, karena pergi sendirian bukan berarti kita kesepian dan ternyata sendirian asyik juga kok!

Have a nice holiday ahead! Merry Christmas! :)

Selasa, 11 Juli 2017

do not lower yourself, be humble instead

Halo, maaf menghilang selama bulan Juni, karena sedang suasana liburan jadi aku terkena writer's block :)) Pagi ini sambil sarapan sendirian, aku mendapat pencerahan tentang apa yang harus aku tulis (akhirnya). Setelah memikirkan apa saja yang mau kujadikan poin penting, aku langsung menyalakan laptopku, daripada keburu lupa :p

Teman-teman pembaca pasti sudah sangat familiar dengan ajaran tidak boleh sombong, harus rendah hati, dsb. Di sekolah pasti akan selalu diajarkan, baik di pelajaran agama, kewarganegaraan, bahkan di pelajaran bahasa indonesia bagian peribahasa. Tapi apakah kita benar-benar mengetahui diri kita sendiri? Jangan-jangan selama ini apa yang kita pikir adalah tindakan rendah hati, justru menjadi sebuah kesombongan yang tidak kasat mata; rendah diri. Mengapa aku mengatakan bahwa rendah diri adalah bentuk dari kesombongan? Hari ini aku akan berbagi isi pikiranku tentang hal ini.


Tak jarang di dalam pergaulan, kita mendengar teman kita mengucapkan "ah aku mah apa atuh, cuma ...." atau bahkan kita sendiri adalah orang yang suka mengucapkan kalimat ini. Mungkin konteks dan intensinya hanya untuk bercanda, apalagi biasanya setelah kata 'cuma' selalu diikuti oleh kata-kata benda yang lucu. Tapi sadarkah teman-teman, kalau orang yang senang berbicara seperti itu sebenarnya sedang merendahkan dirinya sendiri? Dengan berkata seperti itu, mereka merasa dirinya bukan apa-apa, bukan seseorang yang penting, dan tidak mampu melakukan hal yang hebat. Sama halnya dengan orang yang menurut kita over-rendah-hati, padahal sebenarnya mereka sedang merendahkan dirinya, misalnya "ah rumah besar apanya, ini cuma rumah gubuk kok" padahal rumahnya gedong, atau "ah masa sih aku cantik? kamu lebih lebih cantik" padahal dia memang beneran cantik, atau "sori ya, gue emang begini orangnya dari dulu, suka .... (nyusahin, nyebelin, atau sifat-sifat negatif lainnya, you name it)" yang intinya stating that he can't be changed.

Mengapa rendah diri adalah bentuk dari kesombongan?
Tolong digarisbawahi bahwa rendah diri dan rendah hati adalah dua hal yang berbeda. Rendah hati adalah ketika seseorang mempunyai kelebihan baik dalam hal materi, bakat, atau kemampuan, namun tidak menunjukkannya di hadapan orang lain demi mendapatkan pengakuan dan pujian. Rendah diri adalah ketika seseorang merasa tidak memiliki kelebihan apapun dan menyalahkan dirinya atas hal tersebut, sehingga cenderung menutup diri dari lingkungan sekitar dan lingkaran sosialnya.


Manusia pada dasarnya diberikan talenta oleh Tuhan yang jumlahnya berbeda-beda tergantung kesanggupannya masing-masing. Ada yang punya banyak talenta dan ada yang punya sedikit talenta. Tugas manusia adalah mengembangkan talenta yang diberikan oleh Tuhan sehingga muncul talenta baru. Dengan merasa rendah diri yang artinya tidak memandang dirinya berharga dan mampu, sama saja kita tidak menghargai pemberian Tuhan. Seseorang tidak mungkin tidak memiliki kelebihan atau talenta apapun, ia hanya belum menemukannya.
Orang yang merendahkan dirinya sendiri di hadapan orang lain, cenderung mempunyai keinginan untuk disanggah argumennya oleh orang lain, semata karena ingin dirinya merasa lebih baik.
Orang yang merendahkan dirinya karena merasa sifatnya sudah mendarah daging dan tidak dapat diubah lagi, juga patut dipertanyakan. Secara tidak langsung mereka sudah merasa tinggi hati sehingga merasa tidak perlu mendengar saran orang lain dan tidak ingin berubah.


Semua orang adalah berharga dan memiliki kelebihan masing-masing. Satu orang tidak dapat dibandingkan dengan orang lainnya karena mereka berbeda. Jika ada orang lain yang memujimu, terimalah dan ucapkanlah terimakasih, karena kamu layak menerima pujian. Jangan menyangkal dengan mengatakan kalimat yang justru kebalikan dari pujian tersebut dan malah membuatmu dikasihani orang lain. Jangan lagi mengucapkan kalimat-kalimat yang merendahkan dirimu sendiri, maknailah setiap kata yang keluar dari mulutmu sehingga memberi dampak positif bagi orang lain.

Semua orang akan terus berkembang, bahkan sampai tua sekalipun manusia akan terus belajar mengenal dirinya sendiri. Karakter negatifmu yang sekarang kamu anggap sudah tidak bisa diubah lagi, pasti masih bisa berubah. Jadilah seseorang yang percaya diri dan tetaplah rendah hati.

Ini ada artikel bagus yang bisa dijadikan bahan perenungan, apakah selama ini kita rendah hati atau rendah diri?

Semoga menginspirasi! Have a nice holiday :)

Kamis, 25 Mei 2017

understanding friendship

Hai.. setelah sekian lama absen dari tulis menulis, i finally have something strong enough to make it into a feed.
Hubungan pertemanan itu susah susah gampang, bener ga sih? Biasanya sih orang cenderung akan berteman dengan orang lain yang menurutnya mirip dengan dirinya, atau punya kesukaan yang sama. Tapi yang pasti dari sekian kesamaan itu pasti ada hal-hal yang berbeda, apalagi kalau sudah mengenal teman kita lebih dalam. Semua perbedaan bisa langsung nampak. Khususnya kalau sama-sama perempuan. Biasanya ada seni tersendiri untuk bisa mempertahankan pertemanan.

Mungkin di sosmed banyak feed berupa foto atau status yang menunjukkan betapa akrabnya sepasang atau sekelompok sahabat. Yang suka pergi makan bareng ke restoran cantik yang harga makanannya bikin aku nyipit-nyipit ((karena ga sanggup lihat)), atau yang suka pergi bareng dengan baju-baju yang lagi in, atau sekedar caption ucapan ulang tahun yang penuh dengan emot love, kiss, dan panggilan sayang seperti beb atau honey dan semacamnya. Ga ada yang salah dari ini semua sih, karena setiap orang kan butuh mengekspresikan diri mereka dan butuh hal-hal yang membuat mereka bahagia. Tapi yang aku sayangkan adalah jika pertemanan atau persahabatan sekelompok orang hanya sampai disana. Ibaratnya dari sekian dalam lautan persahabatan dan hal-hal yang sangat banyak dari sahabat kita yang belum kita ketahui, kita hanya berenang di permukaannya. Kita hanya dekat karena kita sama-sama ingin senang-senang, tapi saat salah satu ada masalah, orang yang kita sebut sahabat malah acuh tak acuh terhadap masalah kita. Atau memberi kata-kata yang terkesan formalitas dan basa basi belaka, contohnya 'yang sabar ya..' tanpa memberi saran atau solusi sama sekali.

Aku tipe orang yang menghargai persahabatan. Jika aku sedang dekat dengan temanku, aku suka mengetahui keseharian mereka, aku juga suka jika temanku bercerita padaku, karena aku merasa dipercaya. Aku juga ingin selalu keep in touch dengan mereka. Hal yang cukup mengecewakan adalah saat sahabatku tidak bercerita apa-apa padaku, padahal aku tau ia sedang apa-apa, well.. 
Aku juga orang yang suka memberi saran pada teman-teman dan sahabatku, walau kadang tidak secara gamblang karena aku orang yang 'gak enakan'.

Sesuatu yang menyedihkan adalah apabila seorang sahabat pergi karena menganggap sahabatnya terlalu peduli padanya dan ia merasa risih. I mean, ga semua orang punya kualitas seperti itu dalam hal persahabatan, ga semua orang mau peduli dengan orang lain. Menjalin persahabatan juga termasuk relationship dengan orang lain, dan ini ga luput dari perselisihan. Saat terjadi perselisihan dengan sahabat, banyak orang lebih memilih 'kabur' atau diam-diam melupakan tanpa mengungkitnya lagi, tapi ada juga yang dengan jujur mengatakannya. Aku lebih suka tipe kedua, karena dengan mengatakannya, hubungan persahabatan menjadi lebih baik, kita juga lebih paham dengan cara berpikir sahabat kita, dan yang terpenting kita bisa membangun diri kita sendiri. Mengatakan masalah di antara hubungan persahabatan tidak selalu dengan baik-baik, terkadang ada percik amarah yang muncul karena sudah terlalu lelah. Sebelum marah-marah ada baiknya kita memahami bagaimana karakter sahabat kita, karena bukannya alih-alih berbaikan, malah ribut berkepanjangan.




Menjalin persahabatan tidak hanya senang-senang bersama, tapi juga saling menegur, mengingatkan, dan membangun satu sama lain. Disinilah letak pengertian itu ada. Disaat sahabat kita menasehati kita, kita harus mendengarkan dan mempertimbangkan nasehatnya, tidak perlu melakukan semuanya jika kita menganggap nasehatnya tidak cocok dengan situasi kita, namun dengan nasehatnya, kita bisa melihat dari sudut pandang lain yang bisa mempengaruhi keputusan akhir kita. Semua nasehat yang sahabat kita berikan, harus kita pahami bahwa itu adalah bentuk dari kepedulian mereka terhadap kita, bahwa mereka tidak ingin kita salah langkah.

Jika kita berada di sisi yang memberi nasehat pada sahabat kita, pahamilah bahwa adalah wajar jika tidak semua nasehat kita akan dilakukan olehnya, karena masing-masing orang mempunyai cara mengambil keputusan yang berbeda. Tapi, akan ada saat dimana sahabat kita tidak sedikitpun mendengarkan kita, yang bisa berujung pada hal yang tidak diinginkan. Jika hal ini sudah terjadi, hiburlah mereka, dan jangan kapok untuk terus peduli pada sahabat kita :)

Akhir kata, semua tulisan ini terinspirasi dari pengalaman pribadi, dan selalu menjadi pedang bermata dua untukku. Untuk semua pembaca tulisan ini, aku harap hubungan persahabatan kalian selalu dipenuhi dengan hal-hal bermakna. Persahabatan tidak hanya bicara soal hubungan yang membahagiakan, tapi juga hubungan yang berjarak, bagaimana kita mengakrabkan diri dengan sahabat kita kembali, itulah hal yang paling berharga.

"Friendship is love with understanding."

Always pray for your bestfriends! Cheers :D